Insight

News

#Gold#Treding - PT. Midtou Aryacom Futures
Trump Naikkan Tekanan, Iran Diminta Deal atau Hadapi Serangan

Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali naik level menjelang akhir Januari 2026. Presiden AS Donald Trump dalam beberapa hari terakhir melontarkan peringatan keras agar Iran segera kembali ke meja perundingan nuklir. Jika tidak, Trump menyebut serangan berikutnya akan “jauh lebih buruk” daripada serangan sebelumnya, sambil menegaskan pengerahan kekuatan militer AS ke kawasan Timur Tengah.

Dari sisi “kondisi terkini”, yang paling jelas terkonfirmasi saat ini adalah bahasa ancaman meningkat dan postur militer AS diperkuat—bukan pengumuman resmi tanggal serangan. Reuters melaporkan Trump menyebut armada yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln menuju kawasan, menambah opsi Washington untuk melindungi pasukan AS atau, bila diputuskan, melakukan aksi militer.

Dari Teheran, responsnya juga keras. Misi Iran di PBB menilai ancaman tersebut sebagai intimidasi, tapi tetap menyatakan “ruang dialog” jika didasari saling menghormati. Namun Iran sekaligus menegaskan akan membela diri dan merespons bila ada agresi. Di sisi diplomasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran tidak meminta negosiasi dengan AS, dan tidak ada kontak terbaru dengan utusan khusus AS Steve Witkoff—meski konsultasi via perantara disebut masih ada.

Faktor lain yang bikin pasar gelisah adalah arah politik AS sendiri. Trump sempat menyampaikan ia tidak terlalu khawatir dengan pelemahan dolar, sementara narasi “dolar lebih lemah” dipersepsikan sebagian pelaku pasar sebagai sinyal kebijakan yang tidak konvensional. Di saat yang sama, meningkatnya tensi AS–Iran ikut mengangkat premi risiko di aset-aset sensitif geopolitik, terutama energi.

Dampak paling cepat terlihat di minyak. Citi memperkirakan harga minyak bisa bertahan tinggi dalam jangka pendek meski ada risiko oversupply, karena pasar memasang geopolitical premium terkait Timur Tengah dan faktor suplai lain. Citi memperkirakan premi geopolitik ini menambah sekitar US$3–US$4 per barel pada harga minyak, dan eskalasi tambahan bisa mendorong Brent mendekati target jangka pendek sekitar US$70/barel.

Posisi hari ini: belum ada pengumuman resmi jadwal serangan, tetapi retorika Trump makin eksplisit, pengerahan aset militer disebut berlangsung, dan Iran menolak negosiasi di bawah ancaman sambil menyiapkan pesan balasan. Pasar membaca kombinasi ini sebagai situasi “siap panas kapan saja”, sehingga volatilitas—terutama di minyak dan safe haven—cenderung tetap tinggi.(mrv)

By Admin Midtou
on 2026-01-29