
Harga emas bergerak hati-hati di sesi Asia, dengan penguatan yang masih terbatas setelah pasar mencoba bangkit dari tekanan tajam pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini menunjukkan bahwa minat beli memang masih ada, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong reli yang lebih besar. Pelaku pasar masih memosisikan emas sebagai aset aman, namun saat yang sama mereka juga menahan agresivitas karena kondisi global belum memberi kepastian arah yang tegas.
Salah satu penyebab utama kenaikan emas masih tertahan adalah kekhawatiran inflasi yang tetap tinggi akibat krisis pasokan energi yang berkaitan dengan Selat Hormuz. Dalam kondisi seperti ini, emas biasanya mendapat dukungan sebagai lindung nilai, tetapi efeknya tidak sepenuhnya mulus. Alasannya, inflasi yang tinggi juga membuat pasar melihat bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama, dan kondisi itu cenderung mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Selain itu, dolar AS juga masih memberi hambatan bagi emas. Wall Street Journal melaporkan indeks dolar mencatat kenaikan dua hari beruntun, yang membuat ruang penguatan emas menjadi lebih sempit. Dolar yang lebih kuat biasanya membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli di luar AS, sehingga kenaikan harga bullion cenderung tersendat meskipun sentimen geopolitik belum benar-benar reda.
Di sisi lain, pasar juga belum melihat perkembangan baru yang cukup besar untuk memicu lonjakan safe haven tambahan. Ketidakpastian seputar gencatan senjata AS-Iran memang masih menopang permintaan defensif, tetapi belum cukup untuk menghapus tekanan dari suku bunga tinggi dan penguatan dolar. Artinya, selama kombinasi faktor ini belum berubah, emas di sesi Asia kemungkinan masih bergerak naik secara terbatas, bukan dalam pola reli yang benar-benar kuat.
Penyebab kenaikan emas masih ketahan