
Newsmaker.id - Harga emas global melemah dalam perdagangan Asia pagi ini, Selasa (7 Juli). Berdasarkan data harga spot global pukul 07.01 WIB (Waktu Indonesia Barat), emas diperdagangkan sekitar US$4.155,27 per troy ounce, turun US$25,11 dari level sebelumnya. Dihitung per gram, harga emas global sekitar US$133,60 per gram.
Tekanan pada harga emas terus berasal dari penguatan dolar AS. Dolar yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga mengurangi minat pada logam mulia tersebut. Pada perdagangan sebelumnya, emas juga mengalami koreksi setelah dolar AS menguat dan investor menunggu arahan dari notulen rapat Federal Reserve.
Dari segi data ekonomi, pasar mengamati rilis PMI Jasa ISM AS, yang turun menjadi 54,0 pada Juni dari 54,5. Terlepas dari perlambatan tersebut, angka ini tetap di atas 50, menunjukkan bahwa sektor jasa AS tetap berada di zona ekspansi.
Komponen inflasi dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga mulai mereda. Indeks Harga yang Dibayarkan turun menjadi 67,7 dari 71,3, sementara Indeks Ketenagakerjaan naik menjadi 51,2, menunjukkan bahwa lapangan kerja di sektor jasa membaik. Data ini mengirimkan sinyal yang beragam ke pasar: inflasi sedikit mereda, tetapi ekonomi AS belum menunjukkan pelemahan yang signifikan.
Untuk pergerakan selanjutnya, fokus pasar tetap pada arah pergerakan dolar AS, ekspektasi suku bunga Fed, dan risalah FOMC minggu ini. Jika dolar tetap kuat, emas kemungkinan akan kesulitan untuk naik secara agresif. Namun, jika data ekonomi AS selanjutnya menunjukkan perlambatan yang lebih dalam, masih ada peluang bagi emas untuk pulih.