
Harga emas kembali terguncang pada pembukaan pekan ini di sesi Asia, melanjutkan volatilitas ekstrem yang sudah meledak di akhir pekan lalu. Pada perdagangan Senin (2/2), emas spot tercatat turun sekitar 4,5% ke area $4.671 per ons, setelah ambles hampir 10% pada Jumat sebelumnya—menandakan pasar masih rapuh dan sensitif terhadap arus likuidasi.
Tekanan utama datang dari menguatnya dolar AS setelah pasar mencerna penunjukan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve berikutnya oleh Donald Trump. Pelaku pasar menilai Warsh cenderung tidak mendorong pemangkasan suku bunga “seagresif” skenario yang sempat dipasang pasar sebelumnya, sehingga USD mendapat dukungan dan emas (yang dihargai dalam dolar) ikut tertekan.
Di saat yang sama, faktor “mekanis” memperparah gerak turun: CME Group menaikkan persyaratan margin (performance bond) untuk kontrak emas, termasuk skema dari 6% menjadi 8% pada beberapa tenor, efektif Senin (2/2). Kenaikan margin ini biasanya memaksa trader yang memakai dana pinjaman untuk menambah jaminan; kalau tidak, posisi bisa ditutup otomatis—menciptakan forced selling yang bikin penurunan terasa lebih “tajam”.
Sentimen juga masih dipengaruhi efek sisa dari “pembalikan ekstrim” di pasar logam mulia pekan lalu. Sejumlah laporan mencatat emas sempat mengalami penurunan intraday terbesar dalam beberapa dekade, sementara perak mengalami penurunan ekstrem—mendorong pelaku pasar melakukan de-risking lintas aset logam. Dalam kondisi seperti ini, koreksi tidak lagi murni soal opini fundamental, tapi juga soal posisi yang terlalu padat dan kebutuhan keluar cepat saat volatilitas melonjak.
Dari sisi risk premium geopolitik, pasar juga menangkap sinyal yang sedikit meredakan ketakutan eskalasi, setelah Trump menyebut Iran “serius berbicara” dengan Washington—membuat sebagian dukungan safe haven memudar sementara waktu.
Ke depan, pelaku pasar menatap pekan yang padat katalis: rilis data tenaga kerja AS (payrolls) serta rangkaian rapat bank sentral besar, yang bisa mengubah lagi ekspektasi suku bunga dan arah dolar. Selama USD tetap firm dan volatilitas logam belum reda, emas berpotensi tetap bergerak “liar” dengan pola naik-turun cepat.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id