
Emas bertahan di atas level psikologis $5.000 pada awal pekan, ditopang faktor kombinasi yang lagi “pas” buat logam mulia: permintaan fisik dari Tiongkok, ekspektasi suku bunga AS yang lebih rendah, dan dolar yang mulai melemah.
Pemicu utamanya datang dari data akhir pekan yang menunjukkan People’s Bank of China (PBOC) kembali menambah cadangan emas. Ini berarti Tiongkok tercatat membeli emas selama 15 bulan berturut-turut, menandakan bahwa permintaan masih kuat di tengah kekhawatiran fiskal dan penutupan ekonomi global.
Dari sisi AS, pasar juga makin ramai bertaruh bahwa The Fed bisa lebih dovish di 2026. Sejumlah data tenaga kerja AS belakangan memberi tanda pelonggaran, yang membuka bagi ruang penurunan suku bunga lebih lanjut dan itu biasanya jadi “bahan bakar” buat emas karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Cerita semakin panas setelah muncul isu tentang tekanan politik terhadap bank sentral. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait suku bunga, ditambah komentar pejabat pemerintah soal kemungkinan langkah hukum terhadap kandidat ketua The Fed, ikut menyampaikan kekhawatiran soal independensi bank sentral situasi yang sering membuat investor mencari aset lindung nilai.
Sementara itu, dolar AS melemah secara moderat dua hari berturut-turut, ditambah narasi dedolarisasi yang masih menjadi tema besar. Kombinasi ini membuat emas lebih menarik, karena ketika USD turun, harga emas relatif lebih “murah” bagi pembeli luar AS.
Namun, dorongan naik emas juga tidak lepas dari rem. Tanda-tanda meredakan ketegangan Timur Tengah setelah pembicaraan tidak langsung AS–Iran diakhiri dengan perjanjian untuk menjaga jalur diplomasi membuat sentimen risiko membaik. Akibatnya, sebagian aliran dana masuk ke aset berisiko, sehingga emas sebagai safe-haven tidak melesat terlalu jauh.
Pasar kini cenderung menahan langkah besar karena menunggu data AS yang krusial: NFP yang tertunda pada hari Rabu dan inflasi konsumen pada hari Jumat. Dua rilis ini berpotensi menjadi penentu arah berikutnya apakah emas terus menguat karena peluang penurunan suku bunga semakin besar, atau justru tertahan jika data memaksa pasar “mengoreksi” ekspektasi terhadap The Fed.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id