
Harga minyak turun sekitar $2 per barel pada Kamis (12/2), dipicu kombinasi proyeksi permintaan yang melemah, meredanya kekhawatiran konflik baru di Timur Tengah, serta perkiraan pasokan yang akan meningkat.
Kontrak berjangka Brent turun $2 (2,88%) ke $67,40 per barel pada pukul 12:54 siang CDT, sementara WTI turun $1,94 (3%) ke $62,69.
Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan permintaan minyak global tahun ini akan naik lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. IEA juga memproyeksikan surplus yang cukup besar, meskipun sempat ada gangguan pasokan pada Januari akibat beberapa outage yang mengurangi produksi. Setelah laporan bulanan IEA dirilis, Brent dan WTI yang sempat ditopang tensi AS–Iran justru berbalik negatif.
Dari sisi geopolitik, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan menjelang kepulangannya dari Washington bahwa Presiden AS Donald Trump tampak sedang membingkai upaya penyelesaian konflik dengan Iran terkait isu senjata nuklir.
“Fakta bahwa Presiden Trump terus bernegosiasi dengan Iran akan menurunkan risiko geopolitik,” kata Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates. Lipow juga menilai proyeksi IEA mengandung penurunan permintaan 2026 yang “cukup signifikan”, dan pasar mulai mengantisipasi tambahan pasokan, termasuk kemungkinan dari Venezuela.
Tekanan tambahan datang dari lonjakan stok minyak AS. Data EIA menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 8,5 juta barel menjadi 428,8 juta barel pekan lalu—jauh di atas ekspektasi kenaikan 793 ribu barel dalam jajak pendapat Reuters. Tingkat utilisasi kilang AS juga turun 1,1 poin persentase menjadi 89,4%. Di sisi pasokan global, ekspor produk minyak Rusia via jalur laut pada Januari naik 0,7% dari Desember menjadi 9,12 juta metrik ton, didorong output bahan bakar yang tinggi dan turunnya permintaan domestik musiman.(Cp)
Sumber: Reuters.com