
Harga emas bergerak stabil di sekitar $5.000 per ons setelah menguat selama dua sesi beruntun, di tengah pasar yang kembali menimbang risiko geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan pagi di Asia, emas spot turun tipis 0,1% ke $4.990,09/oz.
Sentimen safe haven menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran hanya memiliki sekitar 10–15 hari untuk mencapai kesepakatan nuklir, seiring AS menambah kekuatan militernya di kawasan—disebut sebagai pengerahan terbesar sejak periode menjelang perang Irak 2003. Perkembangan ini ikut menjaga premi risiko di pasar energi, dengan harga minyak bertahan di area tinggi beberapa bulan terakhir.
Selain geopolitik, arah suku bunga AS tetap menjadi penggerak utama emas. Ketidakpastian kebijakan The Fed membuat pelaku pasar lebih selektif, karena emas biasanya lebih diuntungkan saat biaya pinjaman menurun. Dalam laporan yang sama, disebutkan komentar pejabat The Fed mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga yang terlalu dalam tahun ini, sementara Bloomberg Dollar Spot Index dilaporkan datar pada hari itu namun sudah naik sekitar 0,8% sepanjang pekan.
Pasar emas juga masih berada dalam fase volatil sejak gejolak besar di akhir Januari. Setelah sempat menembus rekor di atas $5.595/oz, emas pernah terkoreksi tajam dalam waktu singkat, mencerminkan rapuhnya posisi spekulatif. Meski begitu, sejumlah faktor penopang tren jangka panjang dinilai masih ada, termasuk diversifikasi investor dari obligasi dan mata uang negara (sovereign assets).
Dari sisi korporasi, perhatian turut tertuju pada Newmont, produsen emas terbesar dunia, yang memperkirakan produksi emas tahun ini akan lebih rendah seiring rencana peningkatan dan penyesuaian di beberapa aset tambangnya. Di pasar logam lain, perak turun 0,7% ke $77,99/oz, sementara platinum dan paladium relatif stabil.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id