Insight

News

#OIL#MINYAK#TRADING - PT. Midtou Aryacom Futures
Minyak Stabil Meski Stok AS Melonjak, Pasar Tetap Waspada Iran

Harga minyak bergerak stabil menjelang pembicaraan nuklir AS–Iran pada Kamis, ketika pasar menimbang dua kekuatan yang saling bertabrakan: ekspektasi kelebihan pasokan tahun ini dan meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. WTI diperdagangkan di dekat US$66/barel setelah ditutup sedikit lebih rendah pada sesi sebelumnya, sementara Brent bertahan di bawah US$71/barel, mencerminkan pasar yang masih “wait and see” menjelang agenda diplomasi.

Pembicaraan dijadwalkan berlangsung di Jenewa, dengan delegasi AS—termasuk utusan khusus Steve Witkoff—diperkirakan bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Pada saat yang sama, penumpukan pasukan AS di kawasan menjaga kekhawatiran eskalasi tetap tinggi. Struktur pasar opsi turut mencerminkan itu: minat masih condong ke posisi bullish, sementara volatilitas tersirat bertahan tinggi—menandakan pelaku pasar tetap memasang “premi risiko” di harga.

Presiden AS Donald Trump menegaskan preferensinya pada solusi diplomatik, namun kembali memperingatkan konsekuensi jika kesepakatan tidak tercapai. AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap lebih dari 30 entitas yang dituding mendukung penjualan minyak dan pasokan senjata Iran, menambah tekanan pada Teheran menjelang perundingan dan membuat sentimen geopolitik semakin dominan dalam penentuan harga jangka pendek.

Di sisi pasokan, kekhawatiran konflik justru mendorong beberapa produsen utama di kawasan meningkatkan ekspor. Arab Saudi diperkirakan mengekspor minyak mentah terbanyak dalam hampir tiga tahun pada bulan ini, sementara Iran dilaporkan mempercepat pengisian kapal tanker dalam beberapa hari terakhir. Data Vortexa menunjukkan aliran gabungan dari Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab berpotensi naik hampir 600.000 barel per hari dibanding periode yang sama pada Januari—faktor yang dapat membatasi ruang kenaikan harga jika tidak terjadi gangguan pasokan nyata.

Pada pukul 07.41 waktu Singapura, WTI kontrak April naik 0,3% menjadi US$65,64/barel, sementara Brent kontrak April pada Rabu ditutup nyaris tidak berubah di US$70,85/barel. Fokus pasar kini tertuju pada hasil pembicaraan Kamis dan apakah tensi geopolitik berubah menjadi gangguan pasokan yang nyata atau hanya tetap sebagai premi risiko.(alg)

Sumber: Newsmaker.id

By Admin Midtou
on 2026-02-26, 9:52