
Harga minyak melonjak sekitar 13% di awal perdagangan setelah serangan AS dan Israel ke Iran memicu lonjakan permintaan “risk premium” di pasar energi. Lonjakan terjadi saat pelaku pasar menilai risiko eskalasi konflik bisa langsung mengganggu pasokan, terutama dari kawasan Teluk.
Patokan global Brent sempat dibuka melonjak hingga sekitar $82 per barel sebelum memangkas sebagian kenaikan, sementara pasar menunggu seberapa jauh konflik ini akan meluas. Kenaikan tajam di pembukaan ini menegaskan pergerakan minyak sangat headline driven satu kabar baru bisa langsung mengubah harga.
Kekhawatiran terbesar pasar ada pada jalur pengiriman strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi “urat nadi” ekspor energi kawasan. Setiap gangguan di rute ini berpotensi memotong suplai jutaan barel per hari dan mendorong harga bergerak lebih ekstrem.
Di sisi lain, OPEC+ menyepakati kenaikan pasokan 206.000 barel per hari mulai April, tetapi banyak analis menilai tambahan itu belum tentu cukup jika gangguan pengiriman membesar. Fokus berikutnya: perkembangan konflik, status pengapalan di Teluk, dan respons negara produsen yang punya spare capacity.(Cp)
Sumber: Newsmaker.id