Insight

News

#Gold#Treding - PT. Midtou Aryacom Futures
Emas Turun Tipis, Pasar Waspadai Gencatan Senjata Timur Tengah yang Rentan Goyah

Harga emas bergerak melemah tipis dalam perdagangan terbaru setelah pasar mencoba mencerna perkembangan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran. Meski kabar ceasefire sempat memicu optimisme dan menekan harga energi, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin ketegangan di Timur Tengah benar-benar mereda. Reuters melaporkan emas bertahan di sekitar US$4.718 per ons pada Kamis, 9 April 2026, setelah mengalami volatilitas semalam di tengah pasar yang kembali bersikap hati-hati.

Tekanan pada emas muncul karena sebagian investor sempat beralih ke aset berisiko setelah pengumuman gencatan senjata mendorong reli saham global dan memicu penurunan tajam harga minyak. Pada 8 April, Brent sempat anjlok sekitar 16% setelah kabar ceasefire, sementara bursa Eropa dan kawasan Teluk juga menguat karena pasar melihat peluang terbukanya kembali jalur energi penting di Selat Hormuz.

Namun, pelemahan emas tetap terbatas karena situasi geopolitik belum benar-benar aman. Reuters mencatat muncul “retakan” dalam ceasefire tersebut: Iran disebut mulai memberlakukan pembatasan dan pungutan di Selat Hormuz, sementara Israel juga masih meningkatkan serangan ke Lebanon. Kondisi ini membuat pasar belum berani sepenuhnya melepas aset lindung nilai seperti emas.

Selain faktor geopolitik, pasar juga sedang mencerna hasil notulen FOMC yang menunjukkan The Fed masih sangat berhati-hati terhadap inflasi. Nada minutes yang cenderung hawkish membuat prospek penurunan suku bunga belum benar-benar kuat. Buat emas, kondisi ini penting karena suku bunga yang bertahan tinggi biasanya membatasi kenaikan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Jadi, arah emas saat ini berada di persimpangan. Di satu sisi, kabar gencatan senjata sempat mengurangi dorongan safe haven. Tapi di sisi lain, rapuhnya implementasi ceasefire, ketidakpastian pasokan energi, dan sikap hati-hati The Fed membuat penurunan emas juga belum lepas. Selama konflik belum benar-benar reda dan pasar masih dibayangi risiko inflasi energi, emas berpotensi tetap sensitif terhadap setiap headline baru dari Timur Tengah dan Amerika Serikat.

Penyebab

1. Sentimen risk-on sempat muncul
Kabar ceasefire AS-Iran membuat pasar sempat memburu saham dan menekan permintaan safe haven, sehingga emas kehilangan sedikit tenaga.

2. Harga minyak sempat jatuh tajam
Penurunan Brent setelah pengumuman ceasefire meredakan sebagian kekhawatiran inflasi energi, yang sebelumnya menjadi salah satu pendukung pergerakan emas.

3. Gencatan senjata belum benar-benar solid
Retakan dalam kesepakatan, termasuk isu Selat Hormuz dan konflik Lebanon, membuat minat lindung nilai ke emas belum hilang sepenuhnya.

4. Minutes FOMC bernada hati-hati
The Fed belum memberi sinyal dovish yang kuat, sehingga ruang kenaikan emas tertahan oleh ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

Hal yang Perlu Diperhatikan

1. Perkembangan ceasefire AS-Iran
Apakah dua pekan gencatan senjata ini benar-benar berjalan, atau justru makin rapuh karena syarat politik dan militer yang belum selesai.

2. Status Selat Hormuz
Setiap gangguan baru di jalur ini bisa langsung mengerek minyak dan menghidupkan kembali permintaan safe haven untuk emas.

3. Respons pasar minyak
Kalau minyak kembali naik tajam, pasar bisa kembali khawatir soal inflasi global, yang akan memengaruhi arah emas dan ekspektasi suku bunga.

4. Komentar pejabat The Fed dan data inflasi AS
Setelah minutes FOMC, pasar akan lebih sensitif ke data dan komentar baru yang bisa mengubah ekspektasi suku bunga.(CP)

Sumber: Newsmaker.id

By Admin Midtou
on 2026-04-09, 10:04