
Internal Amerika Serikat saat ini menghadapi dua tekanan besar secara bersamaan. Di satu sisi, Federal Reserve belum leluasa untuk bersikap lunak karena risiko inflasi kembali meningkat, terutama setelah lonjakan harga energi memperbesar kekhawatiran bahwa tekanan harga bisa bertahan lebih lama. Di sisi lain, suasana hati warga AS justru memburuk tajam karena biaya hidup dan harga energi yang makin menekan daya beli. Kombinasi ini menciptakan situasi yang rumit: dolar AS bisa tetap kuat, tetapi fondasi sentimen domestik dan politik menjadi lebih rapuh.
Dari sisi kebijakan moneter, The Fed pada rapat 18 Maret 2026 memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%. Secara resmi memang belum ada kebijakan baru yang lebih ketat, tetapi pesan utamanya jelas: bank sentral masih ingin melihat data lebih lanjut sebelum memberi ruang pelonggaran tambahan. Dalam notulen rapat tersebut, para pejabat Fed menyoroti inflasi yang masih di atas target 2% dan meningkatnya risiko dari shock energi, sementara Reuters melaporkan bahwa “some” officials mulai membuka kemungkinan perlunya bahasa yang memberi ruang bagi kenaikan suku bunga bila tekanan harga terus membandel.
Artinya, pasar kini membaca bahwa The Fed belum berada dalam posisi untuk cepat berbalik dovish. Selama harga minyak masih tinggi dan ekspektasi inflasi belum kembali jinak, peluang penurunan suku bunga bisa terus tertunda. Dari perspektif pasar keuangan, kondisi ini cenderung menopang dolar AS karena investor melihat suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi lebih lama dibanding yang sebelumnya diharapkan. Namun, efek sampingnya adalah tekanan biaya pinjaman tetap berat bagi ekonomi domestik, mulai dari rumah tangga hingga dunia usaha.
Di saat yang sama, sinyal dari konsumen AS justru semakin suram. Survei awal University of Michigan menunjukkan Consumer Sentiment Index turun ke 47,6 pada April dari 53,3 pada Maret, yang menurut Reuters merupakan rekor terendah dalam sejarah survei tersebut. Bukan hanya angka headline yang jatuh, ekspektasi inflasi 1 tahun juga naik ke 4,8% dari 3,8%, menandakan warga tidak hanya merasa kondisi ekonomi memburuk, tetapi juga memperkirakan tekanan harga masih akan mengganggu ke depan. Penurunan sentimen ini terjadi lintas kelompok umur, pendapatan, dan preferensi politik, menunjukkan bahwa kegelisahan ekonomi sudah menyebar luas.
Kalau memakai ukuran lain, gambarnya memang sedikit lebih beragam, tetapi belum cukup untuk disebut sehat. Data resmi The Conference Board menunjukkan Consumer Confidence Index naik tipis ke 91,8 pada Maret dari 91,0 pada Februari. Namun, komponen yang lebih penting untuk membaca arah ke depan, yakni Expectations Index, justru turun ke 70,9. Level itu masih berada di bawah ambang yang kerap diasosiasikan dengan risiko pelemahan ekonomi. Jadi walaupun persepsi atas kondisi saat ini belum runtuh sepenuhnya, pandangan warga terhadap beberapa bulan ke depan tetap terlihat rapuh.
Buat pasar, kombinasi inilah yang paling menarik. Ketika Fed belum bisa lunak, dolar AS cenderung mendapat dukungan. Tetapi ketika sentimen warga turun dan tekanan biaya hidup memburuk, risiko terhadap konsumsi rumah tangga dan kestabilan politik domestik ikut meningkat. Dengan kata lain, AS saat ini berada dalam fase di mana kekuatan dolar tidak selalu berarti kondisi domestik sedang sehat. Justru sebaliknya, penguatan dolar saat ini bisa lahir dari campuran ketidakpastian global, tekanan inflasi, dan ekspektasi bahwa The Fed terpaksa tetap keras di tengah warga yang makin tertekan.
Amerika Serikat saat ini sedang menghadapi tekanan ganda dari dalam negeri: The Fed belum bisa lunak karena inflasi berisiko naik lagi, sementara warga justru makin pesimistis karena beban biaya hidup dan energi. Situasi ini memang bisa menjaga dolar AS tetap kuat dalam jangka pendek, tetapi di saat yang sama memperlihatkan bahwa fondasi sentimen domestik AS sedang tidak benar-benar solid.(CP)
Sumber: Newsmaker.id