
Emas menguat di sesi Asia setelah pasar kembali menimbang risiko geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan ini muncul di tengah berlanjutnya ketegangan antara AS dan Iran, setelah blokade terhadap kapal-kapal Iran tetap berjalan, sementara jalur diplomasi disebut masih terbuka. Pada saat yang sama, dolar AS cenderung stabil, tidak lagi melesat agresif seperti sebelumnya, sehingga memberi ruang bagi emas untuk memantul.
Pergerakan emas ini juga terjadi ketika harga minyak justru melemah di awal perdagangan Asia. Reuters melaporkan Brent turun ke sekitar $97.50 per barel dan WTI ke sekitar $96.83, seiring munculnya harapan bahwa dialog lanjutan AS–Iran masih mungkin berlangsung. Turunnya minyak membantu meredakan sebagian kekhawatiran inflasi yang sehari sebelumnya sempat menekan sentimen pasar logam mulia.
Sebelumnya, emas sempat tertekan karena dolar yang lebih kuat dan berkurangnya harapan pemangkasan suku bunga The Fed. Reuters mencatat harga emas spot pada Senin turun 0,3% ke sekitar $4,734.50 per ounce, sementara pasar semakin khawatir lonjakan harga energi akibat konflik akan menjaga inflasi tetap tinggi. Dalam kondisi seperti itu, ekspektasi suku bunga tinggi biasanya mendukung dolar dan mengurangi daya tarik emas.
Namun di sesi Asia, fokus pasar terlihat sedikit bergeser. Ketika dolar tidak melanjutkan penguatan tajam dan harga minyak justru terkoreksi, emas kembali mendapatkan dukungan sebagai aset lindung nilai. Artinya, kenaikan emas pagi ini lebih mencerminkan kombinasi antara rebound teknikal dan permintaan safe haven, bukan perubahan total pada arah sentimen pasar. Selama konflik AS–Iran belum benar-benar mereda, emas masih punya alasan untuk bertahan di zona kuat meski tekanan dari suku bunga tinggi belum hilang sepenuhnya.
Penyebab:
Hal yang perlu diperhatikan: