
AS-Iran Batal Damai? Delegasi Iran Walk Out Di Swiss
Gencatan senjata global yang sedang diupayakan di Swiss terancam gagal total pada hari pertama setelah delegasi Teheran menghentikan sementara pembicaraan dan keluar dari meja negosiasi sebagai bentuk protes terhadap ancaman yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Melalui Truth Social, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang Iran lebih brutal apabila Iran gagal menahan proksinya di Lebanon, yaitu Hezbollah yang sedang mengeskalasi konflik dengan Israel.
Meski begitu, langkah tersebut bukan berarti Iran keluar sepenuhnya dari proses perundingan. Mediator dari Qatar dan Pakistan masih melaporkan adanya kemajuan menuju kesepakatan dalam 60 hari ke depan, sementara pejabat Amerika Serikat juga menyebut negosiasi tetap berlanjut.
Menurut pihak Iran, nota kesepahaman yang ditandatangani Trump bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian pekan lalu juga mencakup pakta nonagresi. Karena itu, ancaman yang dilontarkan presiden Amerika Serikat dinilai bertentangan dengan semangat kesepakatan yang baru saja dicapai.
Nada keras Trump juga kontras dengan pendekatan yang ditampilkan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. Vance sebelumnya mengatakan bahwa dirinya ditugaskan langsung oleh Trump untuk membuka lembaran baru hubungan antara Washington dan Teheran melalui jalur diplomasi.
Kepala delegasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menanggapi ancaman tersebut dengan nada tegas.
"Apakah mereka tidak berpikir bahwa jika ancaman mereka memiliki pengaruh, mereka tidak akan sampai pada keputusasaan yang mereka hadapi saat ini? Kami sama sekali tidak memperhitungkan ancaman Amerika," kata Ghalibaf, sebagaimana dilansir The Guardian.
Di tengah memanasnya situasi, JD Vance berusaha menenangkan suasana dengan menyoroti kemajuan yang telah dicapai dalam upaya meredakan konflik di Lebanon. Menurut Vance, proses menuju perdamaian memang tidak pernah berjalan mulus.
"Hal-hal seperti ini memang selalu sedikit rumit."
Berbeda dengan Trump, Vance mengadopsi pendekatan yang lebih diplomatik terhadap Iran.
"Apa yang diminta presiden kepada kami adalah membuka lembaran baru, mengubah hubungan kami dengan rakyat Iran dan mengulurkan tangan kepada mereka, dengan mengatakan kepada rakyat Iran bahwa jika kepemimpinan mereka bersedia berhenti menjadi pendorong ketidakstabilan kawasan, jika mereka bersedia meninggalkan ambisi senjata nuklir untuk jangka panjang, maka Amerika Serikat siap mengubah secara mendasar hubungan kami dengan negara tersebut," katanya.
"Pertanyaan yang ada di hadapan kita sekarang adalah seberapa banyak lagi yang dapat kita capai bersama? Dapatkah kita membuka lembaran baru?"